Viral Dugaan Kelalaian Penanganan Bayi 3 Bulan di RSUD Ajibarang, Publik Desak Investigasi Transparan

Terkini 03 Jun 2026 12:09 4 min read 258 views By Redaksi

Share berita ini

Viral Dugaan Kelalaian Penanganan Bayi 3 Bulan di RSUD Ajibarang, Publik Desak Investigasi Transparan
Curahan hati seorang ayah yang kehilangan bayi berusia tiga bulan usai menjalani tindakan penguapan (nebulizer) di RSUD Ajibarang viral di media sosial. Kisah pilu tersebut memantik perhatian masyarakat dan memunculkan tuntutan agar dilakukan investigasi menyeluruh demi mengungkap fakta yang sebenarnya.

Banyumas || rakyatcerdas.my.id – Jagat media sosial di Kabupaten Banyumas tengah dihebohkan dengan viralnya unggahan seorang ayah yang mengaku kehilangan putrinya yang masih berusia tiga bulan setelah menjalani perawatan di RSUD Ajibarang. Unggahan tersebut menyebar luas di berbagai grup media sosial dan memicu beragam reaksi dari masyarakat yang menuntut adanya penjelasan serta investigasi terbuka dari pihak terkait.

 

Dalam unggahannya, sang ayah menceritakan kronologi yang menurut pengakuannya bermula pada Selasa, 26 Mei 2026. Saat itu ia bersama istrinya membawa bayi mereka yang bernama Tantri Anindyahwari ke Poli Anak RSUD Ajibarang untuk memeriksakan kondisi batuk dan pilek yang dialami sang buah hati.

Menurut penuturannya, mereka tiba di rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB. Namun karena tingginya antrean pasien, bayi tersebut baru memperoleh giliran pemeriksaan menjelang pukul 13.00 WIB. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, orang tua pasien mengaku mendapat informasi bahwa kondisi batuk yang dialami bayi cukup serius sehingga disarankan menjalani rawat inap.

 

Demi kesembuhan anaknya, keluarga menyetujui saran tersebut dan kemudian mengurus berbagai persyaratan administrasi yang diperlukan sebelum menjalani perawatan lanjutan.

 

Setelah proses administrasi selesai, keluarga kembali ke Poli Anak dan menyerahkan berkas kepada petugas. Mereka kemudian diminta menunggu ketersediaan kamar rawat inap sembari menjalani sejumlah pemeriksaan penunjang, termasuk foto rontgen.

 

Dalam unggahan yang kini menjadi perbincangan publik itu, sang ayah menuturkan bahwa setelah seluruh prosedur dijalani, istrinya diminta masuk ke sebuah ruangan untuk menunggu sambil bayi mereka menjalani terapi penguapan atau nebulizer.

 

Pada saat proses penguapan berlangsung, bayi tersebut disebut menangis dan meronta sebagaimana lazimnya bayi seusianya. Sang ayah mengaku diminta membantu memegang tangan dan masker nebulizer agar tindakan medis dapat berjalan.

 

Namun setelah proses penguapan selesai, kondisi bayi disebut berubah drastis. Awalnya orang tua mengira sang anak tertidur karena terlihat diam. Akan tetapi ketika hendak disusui, bayi tersebut tidak memberikan respons, wajahnya tampak pucat, dan tidak bereaksi saat dibangunkan.

 

Situasi itu membuat kedua orang tua panik. Mereka kemudian meminta bantuan tenaga medis. Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa dokter yang memeriksa kondisi bayi langsung meminta pasien dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah mengetahui kondisi yang terjadi.

 

Sang ayah mengaku bayinya sempat mengalami henti napas dan denyut jantung tidak terdeteksi. Beruntung, tim medis di IGD disebut bergerak cepat melakukan tindakan penyelamatan sehingga kondisi bayi sempat tertolong sebelum akhirnya dirawat di ruang ICU.

 

Meski demikian, perjuangan mempertahankan nyawa bayi tersebut berakhir duka. Pada malam harinya, sekitar waktu Isya, bayi berusia tiga bulan itu dinyatakan meninggal dunia.

 

Dalam unggahan yang viral tersebut, sang ayah menyampaikan kekecewaannya terhadap proses pengawasan selama terapi penguapan berlangsung. Ia menduga tindakan penguapan tidak dipantau secara optimal sehingga menyebabkan anaknya mengalami kekurangan oksigen. Dugaan tersebut menjadi inti keluhan yang kini ramai diperbincangkan masyarakat.

 

Unggahan itu juga memunculkan pertanyaan publik mengenai standar operasional prosedur (SOP) pengawasan pasien bayi saat menjalani terapi nebulizer, khususnya bagi pasien usia sangat rentan seperti bayi di bawah enam bulan.

 

Meski demikian, hingga berita ini ditulis, belum terdapat hasil investigasi resmi yang menyimpulkan penyebab pasti meninggalnya pasien. Dugaan yang disampaikan keluarga masih merupakan pernyataan sepihak yang memerlukan pembuktian melalui audit medis dan pemeriksaan menyeluruh oleh pihak berwenang.

 

Sejumlah warganet meminta agar peristiwa tersebut tidak berhenti sebagai polemik di media sosial semata. Mereka berharap rumah sakit, dinas kesehatan, serta instansi terkait dapat melakukan klarifikasi dan evaluasi secara transparan guna memastikan apakah terdapat unsur kelalaian, kesalahan prosedur, atau faktor medis lain yang menjadi penyebab meninggalnya pasien.

 

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat penting bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya dituntut cepat dan profesional, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan keluarga pasien. Transparansi penanganan medis dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

 

Apabila dugaan yang berkembang di masyarakat tidak benar, maka hasil investigasi resmi akan menjadi dasar untuk meluruskan informasi. Sebaliknya, apabila ditemukan adanya pelanggaran prosedur, maka langkah evaluasi dan perbaikan harus dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

 

Kini, publik menunggu penjelasan resmi dari RSUD Ajibarang serta hasil investigasi yang objektif dan independen. Sebab di balik ramainya perdebatan di media sosial, terdapat duka mendalam sebuah keluarga yang pulang dari rumah sakit bukan membawa harapan kesembuhan, melainkan membawa jenazah buah hati yang mereka cintai.

Ad
Iklan media
Berita | Rakyat Cerdas

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp