Stasiun Bedono Bertransformasi Jadi Destinasi Ngopi Bernuansa Heritage, Warisan Sejarah Perkeretaapian Kembali Hidup
SEMARANG | rakyatcerdas.my.id – Bangunan bersejarah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan perkeretaapian di Jawa Tengah kini kembali menemukan denyut kehidupannya. Stasiun Bedono yang berada di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, tampil dengan wajah baru setelah disulap menjadi sebuah kafe bernuansa heritage yang menawarkan pengalaman berbeda bagi para pengunjung.
Dikenal sebagai stasiun kereta api tertinggi di Jawa Tengah pada masanya, Stasiun Bedono kini tidak lagi dipenuhi suara lokomotif yang melintas. Sebaliknya, kawasan tersebut berubah menjadi ruang publik yang menghadirkan suasana santai, teduh, dan sarat nilai sejarah melalui konsep wisata kuliner bertajuk Train Coffee Stasiun Bedono.
Transformasi bangunan peninggalan era kolonial Belanda tersebut menjadi kafe bukan sekadar menghadirkan tempat nongkrong yang unik. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi upaya pelestarian sekaligus revitalisasi salah satu aset bersejarah perkeretaapian yang memiliki nilai penting dalam perjalanan transportasi Indonesia.
Kehadiran Train Coffee Stasiun Bedono membuat kawasan yang selama ini relatif sepi kembali ramai dikunjungi masyarakat. Bangunan yang dahulu menjadi bagian penting jalur kereta api Ambarawa-Secang kini menjelma menjadi destinasi wisata alternatif yang memadukan sejarah, alam, dan kuliner dalam satu kawasan.
Kafe tersebut resmi melakukan grand opening pada 29 Mei 2026. Kehadirannya langsung menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah yang ingin menikmati sensasi menyeruput kopi di tengah suasana stasiun berusia lebih dari satu abad.
Pengelola menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung. Di area peron stasiun, kursi-kursi lipat outdoor ditata menghadap pemandangan alam sekitar yang masih asri. Sementara bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana lebih santai, tersedia tikar untuk lesehan di bawah rindangnya pepohonan yang mengelilingi kawasan stasiun.
Pengelola Train Coffee Stasiun Bedono, Valen, mengatakan bahwa konsep yang diusung tidak hanya berorientasi pada bisnis kuliner semata. Menurutnya, keberadaan kafe tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali bangunan bersejarah agar tetap dikenal dan dicintai masyarakat.
“Kami ingin mengelola Stasiun Bedono supaya hidup lagi. Tidak hanya sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat,” ujar Valen, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, suasana yang nyaman dan tenang menjadi nilai utama yang ditawarkan kepada pengunjung. Oleh karena itu, pengelola tidak berambisi menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat wisata yang terlalu padat dan bising.
“Kami menjual kenyamanan. Sasaran kami bukan tempat yang terlalu ramai dan berisik, tetapi tempat yang adem dan membuat pengunjung betah,” katanya.
Selain menghadirkan konsep kafe bernuansa sejarah, pengelola juga menggandeng pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan kawasan. Berbagai makanan dan minuman tradisional seperti cendol, pecel, hingga aneka jajanan khas daerah turut meramaikan area stasiun.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal. Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar.
Tidak berhenti sampai di situ, pengelola juga telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan guna memperkuat identitas kawasan sebagai destinasi wisata sejarah perkeretaapian. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menghadirkan gerbong kereta di area stasiun.
Sedikitnya empat gerbong kereta direncanakan akan ditempatkan di kawasan Stasiun Bedono. Kehadiran gerbong tersebut diharapkan semakin memperkuat nuansa perkeretaapian yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utama lokasi tersebut.
Meski baru beroperasi sekitar dua bulan, respons masyarakat terhadap keberadaan Train Coffee Stasiun Bedono dinilai cukup positif. Antusiasme pengunjung terus meningkat dari waktu ke waktu.
Namun demikian, demi menjaga kenyamanan, pengelola tetap menerapkan pembatasan jumlah pengunjung. Apabila kondisi dinilai terlalu padat, akses masuk akan ditutup sementara hingga situasi kembali kondusif.
Saat ini Train Coffee Stasiun Bedono beroperasi setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sementara pada hari Senin, kafe tutup. Pengelola juga berencana memperpanjang jam operasional hingga pukul 21.00 WIB mulai bulan depan guna memberikan lebih banyak pilihan waktu bagi para pengunjung.
Di balik wajah barunya, Stasiun Bedono menyimpan sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan jaringan kereta api di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, stasiun ini dibangun pada tahun 1873 dan mulai beroperasi pada 1905 sebagai bagian dari jalur kereta api Secang-Kedungjati.
Jalur tersebut merupakan jalur kereta api pegunungan yang menggunakan sistem rel gigi atau rack railway, teknologi yang dirancang untuk membantu kereta melintasi medan dengan kemiringan tinggi.
Pada masa Hindia Belanda, jalur ini memiliki nilai strategis karena menghubungkan kawasan militer di Kota Magelang dengan Benteng Willem I di Ambarawa. Jalur tersebut digunakan untuk mendukung mobilitas pasukan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) atau tentara kolonial Belanda.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan kebutuhan transportasi, jalur kereta api tersebut resmi ditutup pada tahun 1976. Meski demikian, sebagian jalur tetap dipertahankan hingga Stasiun Bedono untuk mendukung operasional Museum Kereta Api Ambarawa yang kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Jawa Tengah.
Kini, setelah puluhan tahun berada dalam kesunyian, Stasiun Bedono kembali hidup dengan cara yang berbeda. Melalui sentuhan kreativitas, pelestarian sejarah, dan pemberdayaan masyarakat, bangunan bersejarah itu tidak hanya menjadi saksi masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan pariwisata dan ekonomi lokal di Kabupaten Semarang.
Related Articles