Ribuan Warga Padati Alas Pendawa, Nyadran Bumi Pendawa 2026 Teguhkan Jejak Sejarah dan Spirit Pelestarian Budaya

Pendidikan & Kebudayaan 19 Jul 2026 08:28 4 min read 70 views By Hamdi

Share berita ini

Ribuan Warga Padati Alas Pendawa, Nyadran Bumi Pendawa 2026 Teguhkan Jejak Sejarah dan Spirit Pelestarian Budaya
Kirab budaya yang diawali arak-arakan Api Abadi, Air Suci, serta gunungan hasil bumi menjadi puncak peringatan Nyadran Bumi Pendawa di Kecamatan Wonotunggal. Tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun ini kembali menegaskan Alas Pendawa sebagai ruang spiritual, sejarah, sekaligus potensi wisata budaya Kabupaten Batang.

BATANG | rakyatcerdas.my.id – Suasana teduh Hutan Alas Pendawa di Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, berubah menjadi lautan manusia pada Jumat Kliwon (17/7/2026). Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan yang sarat nilai sejarah tersebut untuk mengikuti puncak peringatan Nyadran Bumi Pendawa 2026, sebuah tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Kreyo, Brayo, dan Siwatu.

 

Perhelatan budaya tahun ini berlangsung lebih semarak dibanding penyelenggaraan sebelumnya. Sejak pagi hari, pengunjung telah berdatangan memenuhi setiap sudut kawasan Alas Pendawa untuk menyaksikan rangkaian prosesi yang memadukan nilai spiritual, sejarah, dan kearifan lokal dalam satu harmoni budaya.

 

Kemeriahan diawali dengan denting gamelan Jawa yang menggema di bawah rindangnya pepohonan tua. Irama kendang yang dimainkan secara langsung mengiringi gerak lincah para penari kuda lumping yang membuka jalannya kirab budaya. Atraksi tersebut seolah menghidupkan kembali memori sejarah tentang kawasan Alas Pendawa yang dipercaya pernah menjadi salah satu pusat peradaban pada masa lampau.

 

Tak berselang lama, rombongan pembawa Api Abadi dari Prapen Purwodadi dan Air Suci dari Petirtaan Balekambang Gringsing mulai memasuki jalur kirab. Keduanya diarak dengan berjalan kaki menuju lokasi utama pelaksanaan Nyadran sebagai simbol penyatuan unsur kehidupan yang telah menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Jawa sejak ratusan tahun silam.

 

Di belakang rombongan tersebut, dua gunungan hasil bumi yang dihiasi aneka buah-buahan lokal, sayuran, dan hasil panen masyarakat menjadi pusat perhatian ribuan warga yang berjejer di sepanjang rute kirab. Gunungan itu melambangkan rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus harapan agar hasil bumi tetap melimpah pada musim-musim mendatang.

 

Prosesi pelepasan kirab dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang dengan mengibarkan Bendera Merah Putih. Pengibaran bendera menjadi simbol bahwa pelestarian budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.

 

Bagi masyarakat Wonotunggal, Nyadran Bumi Pendawa bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Ki Ageng Getas Pendawa, tokoh yang diyakini sebagai pembuka kawasan Alas Pendawa. Dari garis keturunannya kemudian lahir tokoh-tokoh besar dalam sejarah Jawa, di antaranya Ki Ageng Selo, Ki Ageng Henis, hingga Ki Ageng Pemanahan yang dikenal memiliki peran penting dalam lahirnya Kerajaan Mataram Islam.

 

Setibanya di lokasi utama, Api Abadi dan Air Suci diserahkan kepada Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Batang, Angling Kasdiun. Prosesi penyerahan berlangsung dengan tata cara adat yang penuh penghormatan, diselimuti suasana hening yang menghadirkan kekhusyukan bagi seluruh peserta maupun pengunjung yang hadir.

 

Dalam sambutannya, Angling Kasdiun menegaskan bahwa Nyadran memiliki nilai lebih dari sekadar tradisi budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan media pendidikan sejarah dan budaya bagi generasi muda agar memahami asal-usul daerah serta menghargai perjuangan para leluhur.

 

"Kita ingin generasi muda tahu bahwa Batang memiliki jejak sejarah besar yang harus dijaga bersama," ujarnya.

 

Sementara itu, Kepala Desa Kreyo, Suryoto, berharap perhatian pemerintah terhadap kawasan Alas Pendawa semakin besar, terutama melalui peningkatan akses jalan menuju lokasi. Menurutnya, potensi wisata sejarah dan budaya di kawasan tersebut sangat besar apabila didukung infrastruktur yang memadai.

 

Ia juga menuturkan bahwa masyarakat hingga kini masih menjaga berbagai kisah turun-temurun mengenai kesakralan Alas Pendawa. Salah satu cerita yang masih dipercaya adalah kisah sembilan orang yang konon tidak dapat keluar dari kawasan hutan karena datang dengan niat yang tidak baik. Cerita tersebut menjadi pengingat agar setiap orang menghormati alam sekaligus menjaga etika ketika memasuki kawasan yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi.

 

Puncak kemeriahan berlangsung setelah doa bersama selesai dipanjatkan. Tanpa komando, ratusan warga berlarian menuju dua gunungan hasil bumi untuk memperebutkan buah-buahan, sayuran, dan berbagai hasil panen yang dipercaya membawa keberkahan, kesehatan, serta rezeki bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya.

 

Suasana penuh kegembiraan itu menjadi penutup rangkaian prosesi adat yang telah berlangsung sejak pagi hari. Tawa masyarakat bercampur dengan semangat gotong royong mencerminkan kuatnya ikatan sosial yang masih terpelihara di tengah kehidupan modern.

 

Pengamat budaya Batang, Turadi, menilai penyelenggaraan Nyadran Bumi Pendawa tahun 2026 menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya daerah. Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat bersama MLKI serta dukungan berbagai instansi pemerintah menunjukkan bahwa warisan budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.

 

Kegiatan tersebut juga dihadiri unsur Polsek Wonotunggal, Koramil Wonotunggal, Kejaksaan Negeri Batang, Kementerian Agama, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang.

 

Di tengah derasnya arus modernisasi, Nyadran Bumi Pendawa kembali membuktikan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang tersimpan dalam catatan sejarah. Tradisi itu tetap hidup melalui langkah kaki para peziarah, alunan gamelan yang menggema di tengah hutan, tarian kuda lumping yang memukau, serta semangat gotong royong masyarakat yang terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Dengan semangat kebersamaan itulah Alas Pendawa tetap berdiri sebagai saksi perjalanan sejarah sekaligus simbol keteguhan masyarakat Batang dalam merawat identitas budaya bangsa.

Berita | Rakyat Cerdas

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp