Satpam Dapur MBG di Medan Jadi Korban Begal Bersenjata, Peluru Masih Bersarang di Tubuh Selama Sembilan Hari
MEDAN | rakyatcerdas.my.id — Aksi kriminal jalanan kembali menimbulkan keprihatinan publik. Kali ini menimpa Guntur Sugoro (41), seorang petugas keamanan atau satpam dapur MBG di Kota Medan yang menjadi korban percobaan perampokan bersenjata di wilayah Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, pada Senin malam (11/5) sekitar pukul 23.30 WIB.
Peristiwa yang berlangsung di tengah kondisi jalan sepi tersebut tidak hanya menyisakan trauma mendalam, tetapi juga luka serius bagi korban. Guntur mengalami pembacokan pada bagian punggung serta terkena tembakan yang diduga berasal dari senapan angin milik pelaku. Hingga kini, proyektil peluru disebut masih bersarang di tubuhnya karena keterbatasan biaya pengobatan.
Berdasarkan penuturan korban, malam itu dirinya tengah dalam perjalanan menuju rumah seorang rekan. Namun saat melintas di kawasan jalan tumbukan di Desa Cinta Rakyat, ia mendadak dipepet oleh dua sepeda motor yang ditumpangi sejumlah orang tak dikenal.
Korban mengungkapkan bahwa para pelaku diperkirakan berjumlah lima orang dan seluruhnya membawa senjata tajam. Dalam kondisi mencekam tersebut, pelaku meminta dirinya menghentikan kendaraan dan menyerahkan sepeda motor yang dikendarainya.
“Pas sudah masuk jalan tumbukan, langsung di-stop dan dipepet sama dua kereta, lima orang, disuruh berhenti. Tapi, saya merasa saya ini pasti mau dibegal,” ujar Guntur saat menceritakan kembali kejadian yang dialaminya.
Merasa nyawanya terancam dan tidak rela kendaraannya dirampas, Guntur memilih mengambil risiko dengan mencoba melarikan diri. Ia menarik gas sepeda motornya lebih dalam untuk menerobos kepungan pelaku.
Namun upaya penyelamatan diri itu justru memicu tindakan brutal dari para pelaku. Salah seorang pelaku langsung membacok bagian punggung korban dari arah belakang.
“Nah, mulailah dia bacok belakang punggung saya,” katanya.
Meski terluka akibat sabetan senjata tajam, Guntur tetap berusaha mempertahankan kendaraannya dan terus melaju menjauh dari lokasi kejadian. Akan tetapi, aksi kekerasan pelaku tidak berhenti sampai di situ.
Menurut pengakuannya, para pelaku kemudian mengeluarkan senjata yang diduga senapan angin dan menembakkan peluru ke arah tubuh korban. Tembakan tersebut mengenai bagian belakang tubuhnya hingga menyebabkan luka serius.
Korban bahkan sempat mendengar percakapan para pelaku yang menyadari pembacokan sebelumnya tidak membuat dirinya terjatuh.
“Mungkin pas dibacok ditengok enggak luka, dan dia bilang, ‘Eh, enggak apa-apa dia, Bang. Tembak dia, Bang,’” tutur Guntur menirukan ucapan para pelaku.
Dalam kondisi tubuh terluka akibat bacokan dan tembakan, Guntur tetap memacu kendaraannya demi menyelamatkan diri dari ancaman yang dapat merenggut nyawanya sewaktu-waktu. Keberaniannya melawan situasi tersebut membuat dirinya berhasil lolos dari aksi perampokan, meski harus menanggung penderitaan fisik yang cukup berat.
Saat ini Guntur menjalani perawatan di RS Pirngadi Medan. Namun kondisi ekonominya menjadi persoalan baru yang tak kalah berat dibanding luka yang dialaminya. Selama sembilan hari sejak kejadian berlangsung, peluru yang bersarang di tubuhnya disebut belum dapat dioperasi karena keterbatasan biaya.
Sebagai pekerja keamanan di salah satu dapur MBG, Guntur mengaku penghasilannya sangat terbatas. Terlebih dirinya baru bekerja sekitar dua bulan dan kini tidak dapat masuk kerja akibat kondisi kesehatannya yang belum pulih.
“Saya penjaga MBG. Baru dua bulanan gitu, lah. Peluru belum diambil, cuma diperban gitu aja. Nggak berlaku BPJS juga kan, makanya ini lagi buat surat miskin,” ungkapnya lirih.
Kondisi yang dialami Guntur memunculkan perhatian dan simpati masyarakat. Di tengah maraknya kasus kejahatan jalanan, peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan keamanan publik masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi aparat penegak hukum dan pemerintah daerah.
Selain itu, kasus tersebut juga menyoroti realitas sosial yang dihadapi masyarakat berpenghasilan rendah ketika harus berhadapan dengan biaya layanan kesehatan darurat. Di saat korban membutuhkan tindakan medis cepat, keterbatasan akses pembiayaan justru menjadi hambatan yang memperpanjang penderitaan.
Hingga kini, masyarakat berharap aparat kepolisian segera mengungkap identitas para pelaku dan menangkap seluruh komplotan begal bersenjata tersebut agar tidak kembali memakan korban di wilayah Deli Serdang dan sekitarnya.
Related Articles