Meriah dan Penuh Makna, Legenonan Desa Jrebengkembang Satukan Warga dalam Tradisi Sedekah Bumi

Terkini 01 May 2026 22:36 3 min read 37 views By Andy Dayak
Meriah dan Penuh Makna, Legenonan Desa Jrebengkembang Satukan Warga dalam Tradisi Sedekah Bumi
Tasyakuran ruwatan bumi tahunan di Kecamatan Karangdadap dimeriahkan pasar malam dan pagelaran wayang golek, jadi ajang mempererat persatuan warga

Pekalongan | rakyatcerdas.my.id – Suasana malam di Desa Jrebengkembang, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, tampak berbeda dari biasanya. Ribuan warga tumpah ruah memadati area kegiatan dalam gelaran Legenonan atau sedekah bumi yang digelar meriah, Jumat (1/5/2026). Acara tahunan yang sarat nilai tradisi dan spiritual ini kembali hadir sebagai bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus ajang mempererat kebersamaan.

 

Kegiatan yang diprakarsai panitia penyelenggara Rozikin ini menjadi momentum penting bagi warga untuk berkumpul dan merawat warisan budaya leluhur. Tahun ini, penyelenggaraan Legenonan terasa lebih semarak karena digelar di lokasi yang berbeda dari biasanya serta dimeriahkan dengan hadirnya pasar malam yang menyedot perhatian masyarakat dari berbagai wilayah.

 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Jrebengkembang, Agus Setiawan, SH, dalam keterangannya menyampaikan bahwa Legenonan merupakan tradisi rutin yang digelar setiap tahun sebagai bentuk tasyakuran sedekah bumi atau ruwatan desa. Ia menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sarana memperkuat persatuan warga.

 

“Ini adalah kegiatan rutin tahunan, namun kali ini berbeda karena kita hadirkan suasana baru dengan pasar malam agar warga lebih antusias. Harapannya, masyarakat bisa bergerak bersama, ramai, bersatu, dan guyub rukun,” ujar Agus Setiawan,SH saat ditemui di lokasi acara.

 

Menurutnya, di tengah berbagai dinamika sosial, kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga keharmonisan masyarakat. Ia berharap Legenonan bisa menjadi ruang kebersamaan yang mampu meredam potensi perpecahan.

 

“Harapan kami sebagai pemerintah desa, masyarakat bisa saling peduli, tidak mudah berselisih, dan tetap menjunjung tinggi nilai kebersamaan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur,” tambahnya.

 

Selain pasar malam yang berlangsung sejak 21 hingga 30 April 2026, rangkaian kegiatan juga diisi dengan berbagai agenda religius dan budaya. Di antaranya festival hadroh, santunan anak yatim, serta puncaknya pagelaran wayang golek oleh Ki Dalang Wahyudin dari Batang dengan lakon “Syekh Danuwarsih”.

 

Tema tersebut dipilih karena sarat nilai religius dan keteladanan. Tokoh Syekh Danuwarsih digambarkan sebagai sosok sepuh yang menjadi panutan, baik bagi generasi tua maupun anak muda dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

 

“Tema ini menggambarkan sosok panutan, seorang tokoh yang bisa menjadi teladan dalam kehidupan beragama. Ini penting agar generasi muda tetap memiliki arah dan nilai dalam kehidupan,” jelas Agus.

 

Tak hanya menjadi hiburan, pagelaran wayang golek tersebut juga menjadi media edukasi budaya yang mengandung pesan moral mendalam. Penonton tampak antusias menyaksikan pertunjukan hingga larut malam.

 

Kemeriahan acara juga turut dihadiri unsur Muspika antara lain BAMBANG DWI YUSWANTO, S.IP Plt. Camat Karangdadap, Koramil Karangdadap dan Bhabinkamtibmas Polsek Karangdadap serta tokoh penting lainnya, termasuk anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Nur Fatwa, dari fraksi PPP yang menyempatkan hadir untuk memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat tersebut.

 

Dengan terselenggaranya Legenonan tahun ini, Pemerintah Desa Jrebengkembang berharap tradisi ini terus lestari dan mampu membawa keberkahan bagi seluruh warga, baik dari sektor pertanian, industri, maupun kehidupan sosial masyarakat secara umum.

 

“Semoga ke depan desa kami semakin sejahtera, semua sektor berkembang, dan masyarakat hidup dalam keberkahan,” pungkasnya.

Recent Articles

Chat with us on WhatsApp