Reses di Pantai Wonokerto, Sumar Rosul Ajak Jamaah Haji 2022 Jaga Silaturahmi dan Sampaikan Aspirasi
PEKALONGAN | RAKYATCERDAS.MY.ID — Kalau sudah duduk di kursi wakil rakyat, jangan sampai rakyat hanya dicari ketika musim pemilu tiba. Begitulah pesan yang tersirat kuat dalam kegiatan Reses DPRD Kabupaten Pekalongan Tahap II Tahun Anggaran 2026 yang dilakukan Wakil DPRD Kabupaten Pekalongan H. Sumar Rosul, S.IP., MAP, di kawasan Pantai Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Minggu (9/8/2026).
Pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 11.18 WIB tersebut menghadirkan sejumlah tamu undangan, di antaranya H. Nadhim Muharrom, serta komunitas Jamaah Haji Tahun 2022 Nusa Madinah dan Rahmatul Ummah.
Meski lokasi kegiatan berada di kawasan pantai dengan suasana santai, substansi pertemuan tidak kehilangan bobotnya. Reses menjadi kesempatan bagi Sumar Rosul untuk bertatap muka langsung dengan masyarakat, menyerap aspirasi, mendengar kebutuhan warga serta memperkuat tali silaturahmi dengan para konstituen.
Sumar Rosul mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda resmi DPRD Kabupaten Pekalongan yang harus dilaksanakan sesuai jadwal dan pengugasan lembaga legislatif.
“Alhamdulillah, hari ini kita melakukan kegiatan reses. Kita di Kabupaten Pekalongan sesuai dengan jadwal yang ditugasi oleh lembaga DPRD. Hari ini saya lakukan, mulai dari kemarin, ini hari yang kedua di tahap yang kedua,” ujar Sumar Rosul kepada awak media.
Komunitas Jadi Ruang Menjaring Aspirasi
Dalam pelaksanaan reses, Sumar tidak hanya bertemu dengan masyarakat secara umum. Ia juga menyambangi berbagai komunitas yang dinilai memiliki aspirasi dan kebutuhan spesifik.
Mulai dari komunitas pecinta pesisir hingga komunitas keagamaan menjadi bagian dari ruang dialog tersebut.
Menurutnya, setiap aspirasi yang disampaikan masyarakat harus didengarkan secara serius. Namun, tindak lanjutnya tetap harus berpedoman pada aturan dan kemampuan keuangan daerah.
“Kita bertemu dengan beberapa komunitas, seperti komunitas pecinta pesisir maupun komunitas keagamaan. Mereka punya aspirasi yang tentunya harus kita dengarkan dengan cermat dan tentu harus kita tindaklanjuti sesuai dengan kemampuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses penyerapan aspirasi tidak berhenti pada mendengar keluhan masyarakat. Aspirasi yang masuk akan menjadi bahan untuk dibahas melalui mekanisme kelembagaan DPRD.
Sumar juga mengingatkan bahwa setiap usulan harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah. Artinya, masyarakat memiliki ruang yang menyampaikan kebutuhan, sedangkan keputusan mengenai program dan penganggaran tetap harus mengikuti prosedur pemerintahan.
Aspirasi Keagamaan Jadi Salah Satu Prioritas Perhatian
Dari komunikasi dengan komunitas keagamaan, Sumar menyebut terdapat sejumlah kebutuhan yang cukup menonjol.
Aspirasi tersebut antara lain mencakup pembangunan dan rehabilitasi madrasah, tempat ibadah, sekolah-sekolah keagamaan, ruang kelas baru serta kebutuhan guru dan tenaga pendidik.
“Kalau kita ketemu dengan komunitas keagamaan, mereka pasti punya aspirasi yang berkaitan dengan keagamaan. Misalkan pembangunan madrasah, tempat ibadah, kemudian sekolah-sekolah keagamaan yang lainnya,” ungkapnya.
Menurut Sumar, masyarakat menginginkan adanya perhatian lebih terhadap fasilitas pendidikan keagamaan. Tidak hanya pembangunan gedung baru, tetapi juga rehabilitasi sarana yang telah ada dan dukungan terhadap kebutuhan tenaga pendidik.
Aspirasi tersebut selanjutnya akan dipilah dan disesuaikan dengan skala prioritas pembangunan daerah serta kemampuan keuangan pemerintah daerah.
H. Nadhim Muharrom dan Dua Komunitas Jamaah Haji Hadir
Kegiatan di Pantai Wonokerto tersebut semakin hangat dengan kehadiran H. Nadhim Muharrom bersama komunitas Jamaah Haji Tahun 2022 Nusa Madinah dan Rahmatul Ummah.
Kehadiran para tamu undangan tersebut menjadi bagian dari silaturahmi sekaligus ruang dialog antara wakil rakyat dengan masyarakat.
Sumar mengapresiasi para undangan yang telah hadir sesuai jadwal.
Ia berharap pertemuan tersebut tidak hanya menjadi kegiatan formal, tetapi mampu memperkuat hubungan antara dirinya sebagai wakil rakyat dengan perwakilan masyarakatnya.
Suasana Pantai Wonokerto yang terbuka juga membuat dialog berlangsung lebih cair. Para peserta dapat berkomunikasi secara langsung tanpa formalitas yang terlalu kaku.
Resep Sambil Nikmati Pantai dan Ikan Bakar
Ada yang menarik dari pelaksanaan reses kali ini. Pertemuan tidak berlangsung di ruang rapat tertutup, tetapi di kawasan Pantai Wonokerto.
Menurut Sumar, pemilihan tempat tersebut memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdiskusi sekaligus menikmati potensi alam pesisir Kabupaten Pekalongan.
“Sebentar lagi kita mulai acaranya di pantai. Tidak hanya sekedar proses, tapi sambil menikmati alam, alam pantai yang indah. Menunya pun menu khusus sesuai dengan khas pantai, yaitu ikan bakar,” ujarnya.
Meski dikemas santai, Sumar memastikan kegiatan tetap diarahkan pada penyerapan aspirasi dan penguatan hubungan dengan konstituen.
Bahkan, suasana informal tersebut dinilai dapat membuat masyarakat lebih leluasa menyampaikan pandangan dan kebutuhan yang mereka rasakan.
“Jangan Setelah Pemilu Tidak Pernah Berjumpa”
Pesan paling kuat yang disampaikan Sumar Rosul dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan pentingnya menjaga hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat.
Ia menegaskan, hubungan dengan konstituen tidak boleh terputus setelah pemilu selesai.
“Harapannya tentu saya selalu menyambungkan tali silaturahim dengan para konstituen, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda yang sama-sama berkeinginan baik membangun Kabupaten Pekalongan,” tegasnya.
Menurut Sumar, akan menjadi suatu kekeliruan apabila seorang wakil rakyat hanya aktif berdiskusi dengan masyarakat ketika menjelang pemilu.
"Jangan setelah pemilu kemudian jangan pernah berjumpa, bersilaturahmi dengan para konstituen. Hanya pemilu-pemilu saja, menjelang pemilu atau momen-momen tertentu baru membahas konstituen. Menurut kami, itu hal yang keliru," ujarnya.
Bagi Sumar, justru setelah pemilu merupakan masa penting untuk kembali hadir di tengah masyarakat.
Selain mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan, wakil rakyat juga harus kembali mendengarkan aspirasi, menampung usulan serta mengetahui permasalahan baru yang muncul di masyarakat.
Aspirasi Dibawa ke Pembahasan APBD
Sumar mengatakan, aspirasi masyarakat yang diperoleh dalam kegiatan reses akan menjadi bahan yang dapat dibawa ke forum pembahasan DPRD.
Termasuk ketika lembaga legislatif membahas APBD untuk anggaran tahun berikutnya.
“Kemudian menyerap aspirasinya, menampung usulannya. Kita sampaikan nanti ke rapat-rapat dalam pembahasan APBD untuk tahun berikutnya, sesuai dengan ketentuan peraturan-undangan yang berlaku maupun sesuai dengan kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus penegasan bahwa proses memperjuangkan aspirasi menjadi tahapan yang harus dilalui.
Tidak semua permintaan masyarakat otomatis menjadi program. Ada aspek kewenangan, prioritas pembangunan, regulasi dan kemampuan fiskal daerah yang harus diperhitungkan.
Namun, bagi masyarakat, adanya ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung merupakan bagian penting dari proses demokrasi di tingkat daerah.
Politik Jangan Putus di Jalan Tengah
Sumar Rosul juga memandang reses sebagai bentuk pendidikan politik bagi masyarakat.
Menurutnya, politik tidak seharusnya hanya dipahami sebagai proses memilih wakil rakyat setiap lima tahun.
Lebih dari itu, politik merupakan proses membangun hubungan yang berkesinambungan antara masyarakat dan wakil yang telah diberi mandat.
“Kegiatan ini tentu lebih mengakrabkan saya dengan mereka, para tokoh masyarakat dan konstituen. Ini sebagai bentuk pendidikan politik, edukasi bahwa politik itu tidak boleh putus di tengah jalan,” tuturnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga tali silaturahmi, hubungan emosional, ikatan kebatinan dan rasa kekeluargaan antara wakil rakyat dengan masyarakat.
Dengan komunikasi yang terus berjalan, berbagai persoalan dapat diketahui lebih cepat dan dicarikan solusi sesuai kewenangan masing-masing.
“Sehingga antara pemimpin, antara wakil dan yang menyampaikannya selalu sinergi dan selalu berkomunikasi aktif untuk pembangunan Kabupaten Pekalongan,” tandasnya.
Dari Pantai Wonokerto, Suara Warga Dibawa ke Meja Kebijakan
Reses Tahap II DPRD Kabupaten Pekalongan di Pantai Wonokerto tersebut pada akhirnya bukan sekedar acara bertemu, makan ikan bakar atau menikmati pemandangan laut.
Di balik suasana santai bersama H. Nadhim Muharrom, komunitas Jamaah Haji 2022 Nusa Madinah dan Rahmatul Ummah, tersimpan pesan penting tentang bagaimana demokrasi seharusnya berjalan setelah pemilu.
Wakil rakyat tetap harus turun ke masyarakat. Konstituen tetap harus ditemui. Aspirasi harus dicatat dan diperjuangkan melalui jalur yang benar.
Sebab, suara rakyat seharusnya tidak hanya menjadi penting ketika surat suara sedang dihitung.
Setelah pemilu usai, mandat itu berubah menjadi tanggung jawab.
Dan tanggung jawab tersebut menuntut seorang wakil rakyat untuk tetap hadir, tetap mendengar dan tetap membuka pintu komunikasi dengan masyarakat yang telah memberikan kepercayaan.
Related Articles