Ratusan Perahu Iringi Larung Kepala Kerbau, Sedekah Laut TPI Wonokerto Perkuat Tradisi Syukur dan Persatuan Nelayan

4 min read 23 views By Andy Dayak

Share berita ini

YOUTUBE Video 02 Jul 2026 12:59 4 min read 23 views By Andy Dayak
Reporter: Andy Dayak Views: 23 Urutan: 0

Prosesi sakral pelepasan sesaji ke tengah laut yang dipimpin Kepala Desa Tratebang, Pronisa, menjadi puncak Sedekah Laut Paguyuban Nelayan dan Bakul. Tradisi tahunan ini dihadiri Forkopimcam Wonokerto, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

 

PEKALONGAN | RAKYATCERDAS.MY.ID – Nuansa religius, budaya, dan kebersamaan menyatu dalam pelaksanaan Sedekah Laut yang digelar Paguyuban Nelayan dan Bakul Desa Tratebang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Wonokerto, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Kamis (2/7/2026). 

 

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut kembali menjadi momentum ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir atas limpahan hasil laut sekaligus doa bersama agar para nelayan senantiasa memperoleh keselamatan dan keberkahan saat melaut.

 

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Wonokerto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Edy Prabowo yang diwakili Kepala Bidang Tangkap Khoiron beserta jajaran, Kepala Desa Tratebang Pronisa, tokoh agama, tokoh masyarakat, para nelayan, bakul ikan, serta masyarakat yang memadati kawasan TPI Wonokerto sejak pagi hari.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin KH. Ghulam Akhyar Rikza asal Desa Gejlik, Kecamatan Kajen. Doa dipanjatkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan melalui hasil laut sekaligus memohon perlindungan agar seluruh nelayan selalu diberi keselamatan dalam menjalankan aktivitas di lautan.

 

Puncak acara ditandai dengan prosesi larung sesaji ke tengah laut yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Tratebang, Pronisa. Dalam prosesi tersebut, sebuah kepala kerbau beserta aneka pernak-pernik sesaji dibawa menggunakan perahu utama menuju perairan Laut Jawa untuk kemudian dilarungkan sebagai bagian dari tradisi sedekah laut yang telah lama menjadi identitas masyarakat pesisir Wonokerto.

 

Prosesi sakral tersebut berlangsung semarak dengan iring-iringan sekitar 100 perahu nelayan yang telah dihias dengan berbagai ornamen dan bendera warna-warni. Konvoi perahu mengawal pelarungan sesaji hingga ke tengah laut, sementara ribuan pasang mata dari kalangan Forkopimcam, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga menyaksikan jalannya prosesi dari kawasan pesisir.

 

Bagi masyarakat nelayan, larung sesaji bukan sekadar tradisi budaya, melainkan simbol rasa syukur atas hasil tangkapan yang melimpah sekaligus harapan agar laut tetap memberikan kehidupan dan kesejahteraan bagi generasi nelayan berikutnya.

 

Ketua Panitia Penyelenggara Sedekah Laut, Suratno, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat nelayan dan bakul ikan. Selain menjadi bentuk tasyakuran, sedekah laut juga menjadi media mempererat persaudaraan antar pelaku usaha perikanan.

 

"Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan sukses dan mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat. Sedekah laut merupakan tradisi tahunan yang kami laksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan para nelayan," ujar Suratno.

 

Ia mengaku bersyukur mendapat amanah sebagai pengelola TPI Wonokerto sekaligus dipercaya memimpin kepanitiaan Sedekah Laut. Menurutnya, kepercayaan tersebut akan dijadikan motivasi untuk terus membangun TPI agar kembali berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.

 

Suratno juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan, Edy Prabowo, atas kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam mengelola TPI Wonokerto.

 

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Edy Prabowo yang telah memberikan amanah kepada saya. Insya Allah amanah ini akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya agar TPI Wonokerto semakin maju," katanya.

 

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian sedekah laut diselenggarakan tanpa membebani masyarakat melalui pungutan khusus. Pendanaan kegiatan berasal dari sistem simpitan, yakni tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari aktivitas jual beli ikan setiap hari di TPI.

 

"Setiap transaksi jual beli ikan ada simpanan kecil yang dikumpulkan. Dari situlah dana kegiatan sedekah laut berasal sehingga tidak memberatkan nelayan maupun bakul," jelasnya.

 

Lebih jauh, Suratno berharap tradisi sedekah laut mampu memperkuat sinergi antara nelayan dan bakul ikan sehingga mampu mendorong kemajuan TPI Wonokerto sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

 

"Kami ingin nelayan dan bakul semakin kompak, saling mendukung, dan bersama-sama memajukan TPI Wonokerto agar kembali menjadi kebanggaan masyarakat," ungkapnya.

 

Tidak hanya menghadirkan prosesi adat, panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan budaya dan keagamaan untuk masyarakat. Pada Kamis malam akan digelar Pagelaran Wayang Golek dengan dalang Ki Gondrong Wiyono yang membawakan lakon "Kebo Kenongo Gugat (Lahire Joko Tingkir)".

 

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian pada malam berikutnya dan ditutup dengan hiburan rakyat bersama Orkes Mahesa pada malam puncak.

Melalui pelaksanaan Sedekah Laut tahun ini, masyarakat nelayan Desa Tratebang kembali menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga sarana memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas. 

 

Sinergi antara pemerintah, nelayan, bakul, serta seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu menjadi fondasi dalam membangun sektor perikanan Kabupaten Pekalongan yang semakin maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Berita | Rakyat Cerdas

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp