337 Personel Gabungan Diterjunkan Kawal Aksi Peternak Ayam Petelur di Pekalongan
PEKALONGAN | RAKYATCERDAS.MY.ID – Ratusan personel gabungan disiapkan Polres Pekalongan untuk mengamankan aksi damai Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kabupaten Pekalongan. Sebanyak 337 personel dikerahkan untuk memastikan terjaminnya aspirasi para peternak berlangsung aman, aman dan kondusif.
Pengamanan tersebut dilakukan menyusul rencana penyampaian aspirasi para peternak yang menyoroti sejumlah persoalan dalam usaha peternakan ayam petelur, khususnya terkait harga pakan yang dinilai memberikan tekanan terhadap biaya produksi serta harga telur yang berpengaruh terhadap pendapatan peternak.
Untuk memastikan kesiapan personel, Polres Pekalongan menggelar apel pelayanan pengamanan aksi di halaman Mapolres Pekalongan, Senin (10/8/2026) pagi.
Apel dipimpin langsung Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C.Yusuf, SIK,M.Si. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolres Pekalongan Kompol M Farid Amirullah, para pejabat utama Polres Pekalongan, para kapolsek jajaran, serta seluruh personel yang dilibatkan dalam pengamanan.
Kekuatan 337 personel tersebut merupakan gabungan dari berbagai unsur. Selain personel Polres Pekalongan, pengamanan juga melibatkan personel TNI, Dinas Kesehatan, Satpol PP dan Dinas Perhubungan.
Keterlibatan lintas instansi tersebut menunjukkan bahwa pengamanan aksi tidak semata-mata terfokus pada aspek keamanan, tetapi juga mencakup pelayanan kepada masyarakat, pengaturan lalu lintas, hingga kesiapsiagaan apabila terdapat peserta aksi maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan.
Aspirasi Peternak Harus Dihormati
Di hadapan personel yang mengikuti apel, Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf menegaskan bahwa pernyataan pendapat di muka umum merupakan hak masyarakat yang harus dihormati.
Oleh karena itu, polisi diminta tidak memandang aksi penyampaian aspirasi sebagai sesuatu yang harus dihadapi dengan pendekatan represif. Sebaliknya, seluruh anggota diminta membangun komunikasi yang baik dengan peserta aksi.
Rachmad juga mengingatkan anggotanya agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang beredar sebelum maupun selama berlangsungnya kegiatan.
“Kita harus menyikapi situasi ini dengan tenang, profesional, serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang berkembang,” kata Rachmad saat memimpin apel.
Menurutnya, permasalahan yang disampaikan para peternak ayam petelur merupakan permasalahan yang berhubungan langsung dengan keberlangsungan usaha mereka. Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya harga pakan yang berdampak pada biaya produksi.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh peternak, terutama apabila tidak diimbangi dengan harga telur yang memadai.
“Aspirasi tersebut merupakan hak masyarakat yang harus kita hormati dan kita kawal penyampaiannya dengan baik,” ujarnya.
Polisi Diminta Tak Arogan
Rachmad secara khusus memberikan penekanan kepada seluruh personel agar mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif selama menjalankan tugas.
Menurutnya, aparat keamanan harus mampu menunjukkan bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat bukan untuk menghambat tercapainya kesepakatan, melainkan memastikan aspirasi dapat disampaikan secara aman dan tertib.
“Kegiatan yang akan kita amankan pada prinsipnya merupakan aksi representasi aspirasi secara damai. Untuk itu, laksanakan pengamanan dengan tertib, humanis, persuasif, dan tetap mengedepankan pendekatan komunikasi,” tegasnya.
Kapolres meminta personelnya memberikan pelayanan terbaik, tidak hanya kepada peserta aksi, tetapi juga masyarakat umum yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Sebab, aktivitas masyarakat tetap harus berjalan meski terdapat kegiatan menyampaikan aspirasi.
“Kita harus memberikan kesan bahwa Polri hadir untuk memberikan pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat, bukan sebaliknya,” katanya.
Ia juga mengingatkan seluruh anggota untuk menjaga sikap, ucapan dan perilaku selama berada di lapangan. Setiap tindakan seseorang, sekecil apa pun, dapat menjadi perhatian publik dan berpotensi mengganggu keamanan situasi.
Oleh karena itu, anggota dilarang melakukan tindakan arogan, terpancing provokasi maupun mengeluarkan komentar yang justru dapat memperkeruh keadaan.
Dua Titik Jadi Perhatian
Dalam rencana pengamanan tersebut, terdapat dua lokasi yang menjadi perhatian utama, yakni Kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan dan kawasan Jalan Mandurorejo.
Kapolres meminta setiap pengirim memastikan distribusi kekuatan personel di kedua lokasi berjalan secara proporsional. Personil juga harus memahami secara detail lokasi pengugasan, jalur pergerakan massa, tempat berkumpul serta pola komunikasi selama kegiatan berlangsung.
Namun pengamanan tidak hanya dilakukan ketika massa telah tiba di lokasi aksi.
Rachmad meminta personelnya memantau pergerakan massa sejak dari titik keberangkatan, selama berlangsungnya aksi, hingga peserta kembali menuju titik kepulangan.
“Pantau pergerakan massa sejak titik keberangkatan, selama pelaksanaan aksi, hingga massa kembali ke titik kepulangan. Jangan hanya fokus pada lokasi aksi,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan maupun gangguan keamanan yang mungkin muncul selama perjalanan massal.
Negosiator di Garda Depan
Selain pengamanan secara umum, personel negosiator juga akan ditempatkan pada posisi strategis. Mereka bertugas membangun komunikasi dengan koordinator lapangan maupun perwakilan peserta aksi.
Komunikasi tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga suasana tetap terkendali. Setiap permasalahan yang muncul diselesaikan dapat diselesaikan melalui dialog sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih besar.
Sementara itu, pasukan Dalmas Lanjut tetap disiagakan di dalam Mapolres Pekalongan.
Pasukan tersebut tidak akan ditampilkan secara berlebihan di hadapan massa. Keberadaannya disiapkan sebagai kekuatan cadangan yang sewaktu-waktu dapat bergerak apabila terjadi perkembangan situasi yang memerlukan penebalan personel.
Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tindakan pengamanan dilakukan dengan prinsip proporsionalitas. Polisi tetap menyiapkan kekuatan yang memadai, namun tidak ingin kehadiran aparat justru menimbulkan kesan intimidatif kepada masyarakat yang sedang menyampaikan aspirasinya.
Setiap Perkembangan Wajib Dilaporkan
Kapolres juga menekankan pentingnya rantai komando selama pelaksanaan pengamanan.
Tidak boleh ada anggota yang mengambil keputusan sendiri tanpa koordinasi dengan pengontrol maupun pimpinan. Setiap perkembangan situasi harus dilaporkan secara berjenjang agar langkah penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Utamakan komunikasi, koordinasi, dan pengendalian diri. Apabila terdapat perkembangan situasi sekecil apa pun, segera laporkan kepada pemimpin atau pengontrol pengontrol agar dapat diambil langkah secara cepat dan tepat,” tutupnya.
Dengan pola pengamanan tersebut, Polres Pekalongan berharap aksi Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kabupaten Pekalongan dapat berjalan sesuai tujuan, yakni menyampaikan aspirasi secara damai tanpa mengganggu sinyal umum.
Di sisi lain, masyarakat yang tidak terlibat dalam aksi juga diharapkan tetap dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasa.
Bagi kepolisian, keberhasilan pengamanan bukan semata-mata ditandai dengan tidak adanya kericuhan. Lebih dari itu, pengamanan dinilai berhasil jika peserta aksi dapat menyampaikan aspirasinya dengan aman, aparat mampu memberikan pelayanan yang humanis, dan aktivitas masyarakat umum tetap berjalan dengan tertib.
Dengan pendekatan komunikasi, koordinasi, dan pengendalian diri, 337 personel gabungan yang diterjunkan diharapkan mampu menjaga demokrasi di Kabupaten Pekalongan, sekaligus memastikan keamanan dan izin tetap terjaga.
Related Articles