Gas 3 Kg Disulap Jadi “Barang Mewah”? Ketua GNPK RI Bongkar Dugaan Permainan Nakal di Balik Subsidi !
Pekalongan | rakyatcerdas.my.id - Jagat media sosial Facebook lagi panas bukan karena cuaca, tapi gara-gara tabung gas melon 3 kg yang katanya makin “misterius”. Kali ini, sorotan datang dari Ketua Umum GNPK RI, H. M. Basri Budi Utomo, yang dengan gaya ceplas-ceplos mengungkap dugaan permainan di balik distribusi gas subsidi.
Dalam pernyataannya yang viral, Basri menyebutkan bahwa harga asli tabung LPG 3 kg sebenarnya berada di angka Rp42.750. Nah, pemerintah sendiri sudah “baik hati” memberi subsidi sekitar Rp30.000 per tabung agar bisa dinikmati masyarakat kurang mampu.
“Harusnya rakyat kecil bisa senyum, bukan malah garuk-garuk kepala,” kira-kira begitu maksudnya.
Namun, yang bikin geleng-geleng kepala justru bukan soal harga di atas kertas, melainkan praktik di lapangan. Menurut Basri, masalah mulai muncul saat distribusi masuk ke level pangkalan atau agen. Di sinilah cerita mulai terasa seperti sinetron penuh plot twist.
Contohnya begini: satu pangkalan bisa dapat jatah sekitar 50 tabung per hari, atau kalau dikalkulasikan jadi 350 tabung per minggu. Tapi, entah ke mana perginya, ada selisih yang bikin kening berlipat—sekitar 250 tabung yang “menghilang tanpa jejak”.
“Ini gas apa jin, bisa hilang sendiri?” celetuk netizen yang ikut nimbrung di kolom komentar.
Dari situ, muncul dugaan praktik nakal yang bikin publik makin curiga. Beberapa modus yang disorot antara lain gas subsidi dijual ke pihak yang jelas-jelas tidak berhak, seperti industri, hotel, hingga rumah makan besar. Ibaratnya, gas buat rakyat kecil malah mampir ke dapur bisnis besar.
Belum lagi, ada dugaan gas dijual dengan harga lebih tinggi demi meraup keuntungan lebih besar. Jadi, bukan cuma gasnya yang menguap, tapi juga rasa keadilan.
Menariknya, dalam pernyataannya, Basri justru tidak menuding pengecer sebagai biang kerok utama. Ia menilai ada kemungkinan lebih besar keterlibatan oknum di level distribusi yang lebih tinggi—yang oleh warganet langsung dijuluki sebagai “mafia gas”.
“Pengecer cuma ujung tombak, jangan semua disalahkan ke mereka. Yang main di belakang layar justru harus diusut,” tegasnya.
Pernyataan ini langsung disambut riuh oleh netizen. Ada yang serius mendukung, ada juga yang menyelipkan humor khas +62. “Gas 3 kg sekarang bukan buat masak, tapi buat bikin emosi,” tulis salah satu pengguna Facebook.
Di akhir pernyataannya, Basri berharap pemerintah dan aparat penegak hukum tidak tinggal diam. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat agar distribusi gas subsidi benar-benar tepat sasaran, bukan malah jadi ladang cuan bagi oknum tak bertanggung jawab.
“Kalau dibiarkan, yang masak mie instan bisa-bisa pakai lilin,” sindirnya.
Kini, publik menunggu langkah nyata. Apakah dugaan “mafia gas” ini akan benar-benar dibongkar, atau justru kembali menguap seperti gas yang tak jelas rimbanya? Yang jelas, rakyat kecil cuma ingin satu: masak tetap jalan, dompet tidak jadi korban.