Ketika Kepedulian Datang ke Rumah: Polres Pekalongan Dampingi Dua Anak dengan Kelainan Kaki Bawaan

PRESTASI 02 Oct 2026 06:40 • 5 min read • 5 views • By Andy Dayak

Share berita ini

Ketika Kepedulian Datang ke Rumah: Polres Pekalongan Dampingi Dua Anak dengan Kelainan Kaki Bawaan
Bukan Sekadar Bantuan, Polisi Bangun Pendampingan Berkelanjutan bagi Arabela dan Aiza

Pekalongan - Pagi itu, perhatian datang bukan dalam bentuk seremonial besar. Tidak ada panggung, tidak pula kerumunan yang memenuhi halaman. Yang hadir justru sejumlah anggota kepolisian bersama berbagai unsur di wilayah setempat, membawa bantuan sekaligus pesan bahwa perjuangan mendapatkan layanan kesehatan tidak harus dijalani seorang diri.

Di dua desa berbeda di Kabupaten Pekalongan, kepedulian itu menyapa dua anak yang sejak usia dini harus berhadapan dengan kondisi kelainan kaki bawaan atau Clubfoot (Congenital Talipes Equinovarus/CTEV).

Keduanya adalah Arabela Ika Saputri, 23 bulan, warga Desa Sengare, Kecamatan Talun, dan Aiza Nur Fayza, 9 bulan, warga Desa Paninggaran, Kecamatan Paninggaran.

Pada Rabu (30/9/2026), jajaran Polres Pekalongan mendatangi kediaman kedua anak tersebut.

Kunjungan itu bukan sekadar menyerahkan bantuan. Di balik sepatu khusus dan peralatan penunjang yang diberikan, terdapat upaya membangun komunikasi antara keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kepolisian dan aparat kewilayahan agar proses penanganan kedua anak tersebut dapat terus berjalan.

Dari Desa Sengare, perhatian tertuju kepada Arabela

Di Desa Sengare, suasana sederhana di rumah Arabela menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

Jajaran Pejabat Utama Polres Pekalongan hadir dipimpin Kabag Log Polres Pekalongan Kompol Kalung Muktiyana, S.Sos., yang mewakili Kapolres Pekalongan.

Turut hadir Kasat Reskrim AKP Fauzi Surya Chandra, S.Tr.K., S.I.K., M.I.K., Kasi Hukum AKP Quratul Aini, S.H., personel Sie Dokkes, KBO Sat Reskrim, Kapolsek Talun Iptu Heru Santoso, S.H., bersama unsur pemerintah kecamatan, puskesmas, Koramil, pemerintah desa dan tokoh masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan anak membutuhkan kerja bersama. Polisi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jejaring pendampingan di tingkat desa.

Kepada keluarga Arabela, bantuan berupa sepatu khusus dan sejumlah alat penunjang penanganan CTEV diserahkan.

Kompol Kalung Muktiyana menyampaikan bahwa dirinya hadir mewakili Kapolres Pekalongan yang berhalangan karena memiliki kegiatan mendadak di Semarang.

Ia meminta agar komunikasi antara keluarga, pemerintah desa, puskesmas, Polsek dan Sie Dokkes terus dijaga.

"Untuk program kepedulian CTEV kepada warga, kami meminta komunikasi antara pemerintah desa, puskesmas, Polsek dan Dokkes dalam penanganan lebih lanjut kepada pasien."

Pesan tersebut menjadi penting karena perjalanan penanganan CTEV tidak berhenti ketika bantuan diterima.

Ada pemeriksaan, penggunaan alat bantu, kontrol dan pemantauan yang perlu dilakukan sesuai kebutuhan medis anak.

Polisi ingin keluarga tidak berjalan sendiri

Bagi keluarga yang tengah mendampingi anak dengan kondisi kesehatan tertentu, perjalanan menuju fasilitas kesehatan dan menjalani kontrol secara berkala bukan selalu perkara sederhana.

Karena itu, Polres Pekalongan mendorong agar Bhabinkamtibmas di desa dapat menjadi salah satu penghubung ketika keluarga membutuhkan koordinasi.

"Kami ada personel Bhabinkamtibmas yang terjun langsung di desa. Silakan apabila ibu akan kontrol ananda, koordinasikan dan komunikasikan terlebih dahulu supaya kita sengkuyung bareng," ujar Kalung.

Kalimat tersebut menggambarkan pendekatan yang ingin dibangun: senguyung atau gotong royong dalam pendampingan.

Bantuan tidak diposisikan sebagai akhir dari kegiatan, melainkan sebagai bagian dari proses yang membutuhkan komunikasi antara keluarga dan berbagai pihak.

Kalung juga mengingatkan agar sepatu khusus serta alat bantu yang telah diberikan digunakan sesuai aturan dan petunjuk.

"Sepatu dan alat lainnya yang sudah diterima untuk ananda agar dipakai sesuai aturan. Semoga alat tersebut berguna," katanya.

Di Paninggaran, perhatian berlanjut kepada Aiza

Perhatian serupa kemudian hadir di Desa Paninggaran, Kecamatan Paninggaran.

Di tempat tersebut, jajaran Polres Pekalongan mengunjungi Aiza Nur Fayza, bayi berusia 9 bulan.

Kegiatan dipimpin Kabag Ren Polres Pekalongan Kompol Busono, S.H., M.H.

Turut hadir Kasat Samapta AKP Suhadi, S.H., Kasat Narkoba Iptu R. Yonanta Edy Pranawa, S.H., M.H., Kasat Tahti Iptu Bono Raharjo, S.H., personel Polsek Paninggaran dan Sie Dokkes Polres Pekalongan.

Seperti halnya di Desa Sengare, keluarga Aiza mendapatkan bantuan berupa sepatu khusus dan alat penunjang penanganan CTEV.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memastikan bahwa keluarga mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses penanganan berikutnya.

CTEV membutuhkan perhatian yang berkelanjutan

Clubfoot atau CTEV merupakan kelainan bentuk kaki yang membutuhkan penanganan dan pemantauan medis.

Dalam konteks kedua anak tersebut, bantuan yang diberikan Polres Pekalongan menjadi bagian dari upaya mendukung proses penanganan, sementara pemeriksaan dan tindakan medis tetap dilakukan melalui tenaga kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan pasien.

Polres Pekalongan juga mendorong koordinasi dengan puskesmas, pemerintah desa dan aparat kewilayahan.

Langkah tersebut diarahkan agar keluarga memperoleh informasi dan pendampingan ketika membutuhkan pemeriksaan maupun kontrol lanjutan melalui fasilitas kesehatan atau rumah sakit rujukan sesuai alur Program Polda Jateng Peduli CTEV.

Di titik inilah peran Bhabinkamtibmas menjadi penting. Kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan, tetapi juga dapat menjadi jembatan komunikasi ketika warga membutuhkan koordinasi dengan berbagai unsur pelayanan.

Sebuah bantuan yang memiliki arti lebih dari barang

Bagi keluarga, sepatu khusus dan alat penunjang yang diterima bukan sekadar benda.

Di balik bantuan tersebut ada harapan agar anak mendapatkan kesempatan menjalani proses penanganan dengan lebih baik.

Perwakilan keluarga pun menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan jajaran Polres Pekalongan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada jajaran Kepolisian atas bantuan sepatu dan alat lainnya untuk anak kami," ujarnya.

Ucapan sederhana itu menjadi penutup dari sebuah kunjungan yang berlangsung di tengah kehidupan masyarakat desa.

Namun, maknanya lebih panjang daripada waktu kunjungan itu sendiri.

Sebab bagi keluarga yang sedang mendampingi anak menjalani proses kesehatan, perhatian dari lingkungan sekitar dapat menjadi dukungan tersendiri.

Ketika tugas kepolisian menyentuh sisi kemanusiaan

Kunjungan kepada Arabela dan Aiza memperlihatkan sisi lain dari pelayanan kepolisian.

Keamanan dan ketertiban memang menjadi bagian utama tugas kepolisian. Namun di tengah masyarakat, polisi juga bersentuhan dengan berbagai persoalan sosial yang membutuhkan kepedulian dan koordinasi.

Dalam kasus kedua anak tersebut, perhatian diberikan melalui bantuan, komunikasi dan upaya membangun pendampingan bersama.

Polres Pekalongan berupaya melibatkan keluarga, pemerintah desa, puskesmas, aparat kewilayahan dan Bhabinkamtibmas agar proses penanganan dapat terus terpantau.

Pada akhirnya, kepedulian tidak selalu hadir melalui sesuatu yang besar.

Kadang ia hadir melalui sebuah kunjungan ke rumah warga, sepasang sepatu khusus, alat penunjang, dan kesediaan untuk mengatakan kepada sebuah keluarga bahwa mereka tidak harus menghadapi proses itu sendirian.

Arabela di Sengare dan Aiza di Paninggaran menjadi bagian dari cerita tersebut.

Sebuah cerita tentang kesehatan anak, tentang keluarga yang terus berharap, dan tentang gotong royong berbagai pihak agar perhatian kepada mereka tidak berhenti setelah sebuah bantuan diserahkan.

Ad
Iklan media
Berita | Rakyat Cerdas